RSS

Monthly Archives: September 2010

satu jam saja [the premiere]

saya lupa nulis ttg film ini disini sebelumnya.. tp kalian boleh baca di www.satujamsaja.com lebih lengkap ttg film ini.. yg pasti walau pun saya tidak secara langsung atas film ini, namun jiwa dan hati saya mulai di penuhi oleh film ini sejak awal tahun saat mama saya ditawari menjadi produser di film ini.. dan perbincangan seluruh keluarga di -hampir- setiap pertemuan adalah ttg film ini..

film ini sudah selesai di produksi agustus kemarin.. dan awal september kemarin sudah selesai di edit di bangkok.. dan awal bulan depan, tepatnya 7 oktober, film ini akan mulai di tayangkan di 21 cineplex dan XXI di hampir semua kota di indonesia..

dan sebagai part of the family saya mendapat kesempatan buat nonton duluan film ini di acara premierenya.. well, saya sangat menunggu film ini.. walau pun saya pernah membaca skenario dan ditawari menulis novel base on film ini, yg saya tolak di kemudian hari karena saya merasa tidak mampu menulisnya.. tapi saya bener” penasaran sama film ini.. first debut my mom as a movie producer dan first debut of my brother as a movie director.. its gonna be realy cool! hahaha..

selamat menunggu ditayangkannya film ini di bioskop ya teman-teman.. klo nanti udah nonton mohon comment ya.. saya akan menyampaikannya secara langsung kpd mama dan sepupu saya commet kalian ttg film ini.. semoga saja film ini cukup memuaskan setelah negeri kita disuguhi terlalu banyak film horor dan drama porno..

undangan premiere

 
7 Comments

Posted by on 26 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , , , ,

pengakuan

ini adalah sedikit pengakuan atas diri saya.. sedikit rahasia yang mau saya bagi pada kalian semua mengenai saya..

  • saya suka hujan
  • saya suka malam
  • saya suka bintang
  • saya suka pelangi
  • saya dulu tomboi
  • saya benci sekolah
  • saya rajin sekolah
  • saya suka bentuk bibir saya
  • saya mencintai diri saya
  • saya sangat cengeng
  • saya takut gelap
  • saya suka warna ungu, orange dan biru
  • saya suka pake baju warna abu-abu
  • saya benci rok
  • saya suka tidur pake daster
  • saya ga suka asap rokok
  • saya perokok
  • saya suka leci martini
  • saya tidak suka alkohol
  • saya tidak suka kopi
  • saya suka susu
  • saya suka ngomong sendiri
  • saya selalu dibilang jutek
  • saya merasa agak asing ditempat ramai
  • saya penyendiri
  • saya punya banyak teman
  • saya punya sedikit sahabat
  • saya anak tunggal
  • saya punya 3 adik laki-laki
  • saya punya banyak mantan yg ga bisa saya urutin meski saya inget namanya dan jumlahnya
  • saya pemarah
  • saya cengeng
  • saya tidak suka dimarahin
  • saya keras kepala
  • saya moddy
  • saya suka film kartun
  • saya suka film india
  • saya tidak suka film kolosal
  • saya takut lintah
  • saya takut semut yg bergerombol
  • saya suka parfum cowo
  • saya suka mawar putih
  • saya takut petir
  • saya galak
  • saya suka membaca
  • saya suka menulis
  • saya pendengar yg baik
  • saya penasihat yg baik
  • saya suka es krim
  • saya suka coklat
  • saya suka binatang
  • saya tidak suka makanan asin
  • saya sangat mudah menyayangi seseorang
  • saya sangat mudah membenci seseorang
  • saya pemaaf
  • saya pendendam

hahaha.. listnya panjang bgt yaa… saya pusing sendiri nulisnya.. sepertinya saya orang yg terlalu random! karna banyak yg saya tulis diatas adalah saling bertolak-belakang.. beberapa hal diatas tidak saya akui didepan banyak orang.. tapi beberapa hal yg orang tau tentang saya tidak saya tulis disini..

bagi saya orang bisa menilai saya seperti apa pun yang mereka lihat, dengar, tahu.. tapi saya adalah saya.. saya yang menentukan kehidupan saya [dengan campur tangan Allah SWT] dan saya yang menjalankan semua konsekuensinya.. maka saya tidak bertanggung jawab atas pemikiran orang lain terhadap diri saya.. karna manusia bisa bicara apa pun.. tapi dunia tempat saya berpijak akan tetap berputar kearah yang ditentukan Allah..

 
2 Comments

Posted by on 20 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , , , , ,

1st chapter: azora, cinta itu sempurna

satu


“Ini bukan tentang apa aku mencintai kamu atau gak! Yang lagi kita bicarain itu gimana caranya supaya kamu berhenti mencintai aku.” Ucap Zara ditengah kegaduhan café.

“Maksud kamu?” Tanya Haris.

“Duh gak usah sok gak ngerti deh. Aku udah sering banget bilang kalo sampe kapan pun cinta kamu ke aku gak akan berjalan seperti yang kamu mau. Lebih baik kamu berhenti mencintai aku.” Terang Zara.

“Kenapa kamu bisa menyimpulkan hal itu?” Tanya Haris lagi.

“karena aku ini hamil, Haris. Dan kamu bukan ayah dari bayi yang aku kandung!!” Ucap Zara histeris.

Haris menghembuskan nafasnya, melihat sekelilingnya yang tiba-tiba perduli atas keberadaan mereka dan keributan yang mereka buat. Haris mengeluarkan dompet, lalu beberapa lembar uang dam meletakannya dimeja setelah memberi isyarat pada seorang pelayan di dekatnya. Haris bangkit dari duduk, merangkul pinggang Zara dan menyeretnya keluar dari tempat itu. Zara berkali-kali berusaha berkelit, namun cengkraman tangan Haris di pinggangnya tidak memungkinkan Zara untuk melepaskan diri.

“Kamu dengerin aku.” Ucap Haris.

“Aku gak mau denger apa-apa lagi!” Teriak Zara parau sambil menutupi telinganya.

“Dengerin aku.” Ucap Haris, “Siapa pun ayah dari bayi di dalem kandungan kamu itu, buat aku dia cuma laki-laki tolol yang membiarkan kamu sendirian disaat seperti ini. Aku gak perduli siapa dia atau seperti apa dia, yang aku perduli cuma kamu dan bayi yang ada didalem kandungan kamu itu.”

“KENAPA KAMU KERAS KEPALA!! KENAPA KAMU NEKAT!!” Ucap Zara.

“Karena aku mencintai kamu. Jadi jangan pernah minta aku untuk ninggalin kamu, karena itu gak akun pernah terjadi.” Ucap Haris.

Haris menstater mobilnya lalu mengemudikannya ke tengah lalu lintas yang padat. Zara hanya mampu terdiam, memalingkan wajah, tak lagi berminat melanjutkan perdebatan itu.

*

Tiga bulan berlalu dengan perdebatan panjang antara Zara dan Haris. Zara dengan kekerasan niatnya untuk dibiarkan sendiri dan Haris dengan kemantapan hatinya untuk tetep mencintai Zara.

Masing-masing sudah lelah dengan pembicaraan yang selalu berakhir dengan perdebatan panjang dan air mata di pipi Zara. Sudah lelah menafikkan keinginan masing-masing. Sudah lelah karena pembahasan tanpa hasil. Pada akhirnya Zara dan Haris berhenti memperdebatkan itu dan melalui hari sesuai yang mereka inginkan setiap hari. Zara yang enggan terus ditemani dan Haris yang terus ada saat Zara membutuhkan.

*

Jam weker di meja samping tempat tidur berbunyi, namun siempunya malah tak bergeming di dalam selimutnya sampai weker itu lelah berbunyi dan berhenti sendiri. Tak lama setelah weker itu berhenti berbunyi giliran telfon yang berdering, namun siempunya tetap saja seolah mati didalam selimutnya, sampai akhirnya penelfon itu bosan dan berhenti menelfonnya.

“Bangun pemalas.” Ucap Haris sambil menarik selimut Zara.

“Lima menit lagi.” Ucap Zara sekenanya.

“Liat tuh matahari aja bilang kamu udah kesiangan, ini malah minta jatah lima menit lagi.” Ucap Haris membuka gorden kamar Zara.

“Silaaaaau!!” Teriak Zara.

“Biarin. Biar kamu cepet bangun.” Ucap Haris sambil cengar-cengir.

“Iya.. iya.. ini bangun. Dasar bawel.” Ucap Zara sambil memaksakan dirinya bangun dari posisi tudurnya yang nyaman.

“Tuh minum susu. Calon ibu kok pemalas.” Ucap Haris menunjuk susu yang diletakkannya di meja kerja Zara.

“Dasar bodoh. Bawain susu tapi jauh banget naronya. Males ahh ngambilnya. Lagian kamu kok main masuk sembarangan ke apartement aku?” Ucap Zara merajuk.

“Ya kamu di telfon gak diangkat-angkat. Karena aku tau kamu masih tidur ya aku masuk aja, kan aku punya kunci cadangan.” Ucap Haris.

“Bukan berarti karena kamu punya kunci cadangan apartementku terus kamu bisa masuk sembarangan, semprul.” Ucap Zara.

“Iya, aku minta maav. Sekarang kamu bangun dari tempat tidur, minum susu, trus mandi. Kita mau check up ke dokter jam 9.” Ucap Haris.

“Males ahh.” Ucap Zara.

“Yee.. buruan bangun dari tempat tidur dari pada aku ikut tiduran disitu, terus kamu gak boleh bangun sampe aku puas.” Canda Haris, yang disambut Zara dengan lemparan bantal tepat ke wajahnya.

“Rasa apa sih ini?? Aku kira coklat. Gak enak ahh.” Ucap Zara saat menyesap susu yang dibawakan Haris.

“Rasa mocca. Udah minum aja sampe habis.” Ucap Haris sambil mulai merapihkan tempat tidur Zara.

“Mas, mas, maav ya.. Saya gak pesen room service kok.” Ucap Zara dengan wajah serius sambil mengamati pekerjaan Haris.

“Hahahaha.. sial.” Tawa Haris meledak mendengar ucapan Zara.

“Huusshh.. berisik! Udah ahh aku mandi dulu ya..” Ucap Zara.

Zara masuk ke kamar mandi setelah meraih handuknya. Haris menyelesaikan pekerjaannya merapihkan tempat tidur Zara, setelah itu menghempaskan tubuhnya di sofa bed yang biasanya jadi tempat tidurnya bila ia menginap di apartment studio milik Zara ini. Mengamati ruangan berwarna ungu dengan luas 5 X 6 m yang sejak setengah tahun ini menjadi tempat tinggal bagi Zara. Kamar ini berisi sebuah tempat tidur queen size, lemari baju, meja kerja yang menghadap jendela besar, satu set sofa plus meja, TV plus home theater, AC, rak buku, dan kitchen set. Di tata dengan sangat rapih membuat ruang ini tetap terlihat luas meski banyak barang terdapat di dalamnya.

“Hars.. tolong nyalain lagu di iTunes laptopku dong.” Teriak Zara dari kamar mandi.

“Iya.” Jawab Haris sambil beranjak melaksanakan apa yang diminta Zara.

Setelah menyalakan lagu koleksi Zara dari laptopnya, Haris sempat mengamati foto di atas meja kerja Zara. Dari tahun ke tahun Zara hampir tak pernah berubah, rambut hitam panjang sepinggang, wajah oval dengan bibir mungil, pakaian kasual dan sepatu tanpa heals, mata besar yang kadang dihiasi dengan kaca mata silinder 2. Terlahir campuran Indonesia-Spanyol menjadikan Zara begitu sempurna dimata Haris. Bahkan Zara yang baru dikenalnya beberapa bulan saja mampu membuat Haris begitu menginginkan wanita itu, bahkan meski pada akhirnya Haris tau Zara sedang mengandung anak pria lain. Haris tak pernah bertanya siapa ayah dari anak itu, tak tau seperti apa pria itu, bahkan tak perduli akan alasannya meninggalkan Zara dalam keadaan mengandung anaknya. Yang ia tau ia mencintai Zara, apa adanya dan siap menerima seperti apa pun keadaan Zara.

“Ngapain kamu bengong disitu?” Tanya Zara saat keluar dari kamar mandi.

“Hah?” Ucap Haris terkejut, “Gak apa-apa, lg ngeliatin foto kamu aja. Kamu gak pernah berubah ya?”

“Kenapa harus berubah emangnya?” Tanya Zara.

“Karena manusia itu kan dinamis, selalu berubah setiap waktu.” Ucap Haris.

“Oow.. tapi bagi aku, harusnya yang dinamis itu sikap kita terhadap hal-hal, terus perilaku kita yang semakin dewasa, bukan Cuma tampilan luar aja. Lagian dengan aku gak pernah berubah jadi memudahkan orang untuk mengingat aku kan. Lagian aku udah nyaman sama keadaan aku.” Ucap Zara.

“Iya sih, tergantung gimana orang memandangnya aja.” Ucap Haris yang kemudian beranjak kembali ke sofa bed.

“Kamu gak kerja hari ini?” Tanya Zara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Kerja lah, tapi kan gak harus dari pagi gini datengnya. Kaya gak tau kerjaan aku aja.” Ucap Haris, “Kamu sendiri? Gak kerja hari ini?”

“Kerja, tapi karna semalem abis ngerjain lay out sampe jam 2, jadi hari ini izin dateng telat. Kantor juga ngerti lah keadaan aku.” Ucap Zara.

“Bagus lah kalo gitu. Kamu beruntung punya orang-orang disekitar kamu yang open-minded, untungnya juga keluarga kamu terbiasa sama modernisasi kaya kamu gini.” Ucap Haris.

“Modernisasi di Indonesia, di Amerika dan Eropa sih udah dari dulu orang punya anak dulu baru nikah. Tapi orang tua aku juga belum tau kok.” Ucap Zara.

“Kamu belum ngasih tau mereka juga sampe sekarang? Kamu nunggu apa lagi sih emang?” Tanya Haris.

“Nunggu waktu yang tepat, gimana pun mama kan orang Indonesia yang pasti shock kalo tau anak perempuan satu-satunya hamil dan gak jelas siapa bapaknya gini.” Ucap Zara sambil tergelak.

Tawa itu mau tidak mau menular pada Haris. Zara memiliki pribadi yang unik, sangat terbuka dan fun. Jarang bisa menemukan wanita seperti Zara sekarang ini, apa lagi di Jakarta yang [kebanyakan] berisi wanita dengan otak dangkal yang selalu berusaha untuk menjaga image mereka secara berlebihan, dan pada akhirnya menjadikan mereka sebagai pribadi yang kurang fleksibel dan palsu. Haris menyukai Zara yang berbeda, Zara yang tak segan mengulurkan tangan pada orang yang butuh bantuan meski tak dikenalnya, Zara yang begitu penyayang dan secara ajaib juga memiliki mata yang penuh cinta.

“Buruan dong, lama banget jalannya.” Ucap Zara di dalam lift.

“Bawel deh, lagian ibu hamil yang satu ini jalannya buru-buru banget. Ngidam makan kereta express ya, Bu?” Canda Haris.

“Sial.” Ucap Zara sambil memukul lengan Haris.

“Aduh sakit tau.” Ucap Haris memegangi lengannya.

“Eh, sorry. Emang mukulnya kekencengan ya?” Tanya Zara sambil meraih lengan Haris.

“Enggak sih, Cuma pengen dipegang kamu aja.” Ucap Haris.

“Yee..” Ucap Zara kesal.

“Mukanya lucu kalo manyun begitu.” Ucap Haris.

Haris terus meledek Zara sampai tiba di parkiran. Mereka selalu menggunakan mobil masing-masing bila akan pergi kemana pun. Alasannya karena Zara tidak mau terlalu merepotkan bila dia ingin pergi ke suatu tempat. Jadi mereka terbiasa menggunakan mobil mereka sendiri, Zara dengan mobil swift ungunya di depan dan Haris dengan new civic hitamnya mengikuti dari belakang. Hari ini tujuan mereka jelas, ke dokter sebelum Haris mengantar Zara ke kantornya, karena biasanya Zara punya hobby pergi dengan tujuan yang kurang jelas, sehingga Haris hanya bisa mengikuti kemana Zara memacu kendaraannya.

Rumah sakit yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Zara. Rumah Sakit khusus ibu dan anak di daerah darmawangsa, sedangkan Zara tinggal di daerah pangeran antasari.

“siang, dok.” Ucap zara saat memasuki ruang praktek dokter kandungannya.

“siang zara, silahkan tiduran.” Ucap dokter Alma sambil menunjuk kearah tempat tidur pasien.

Dokter Alma mengoleskan cairan dingin keperut zara lalu melakukan USG.

“bayinya kelihatan baik-baik saja, beratnya juga cukup. Apa kamu sudah mulai merasakan gerakan?” ucap dokter alma.

“eh.. belum. Memang seharusnya sudah ya dok?” Tanya zara bingung.

“ya biasanya mendekati usia kandungan 5 bulan mulai ada gerakan lembut, tapi itu normal kok kalau memang kamu belum merasakan gerakan apa apa. Ga perlu panic.” Ucap dokter alma.

“belakangan pinggang saya suka nyeri, itu kenapa ya dok?” Tanya zara sambil merapihkan bajunya.

“itu normal kok, nyeri itu biasanya akan semakin bertambah frekuensinya saat usia kandungan semakin besar. Makanya jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan semua hal. Dan selalu inget untuk istirahat.”

“iya dok.”

“ini resep vitamin, jangan lupa diminum ya.”

“iya, terima kasih dok.” Ucap zara sambil bersalaman dengan dokter alma.

Zara keluar dari ruang prktek dokter dan tidak dapat menemukan dimana Harris. Zara mengeluarkan blackberrynya sambil menuju kearah apotek rumah sakit.

“Ini bukan tentang apa aku mencintai kamu atau gak! Yang lagi kita bicarain itu gimana caranya supaya kamu berhenti mencintai aku.” Ucap Zara ditengah kegaduhan café.

“Maksud kamu?” Tanya Haris.

“Duh gak usah sok gak ngerti deh. Aku udah sering banget bilang kalo sampe kapan pun cinta kamu ke aku gak akan berjalan seperti yang kamu mau. Lebih baik kamu berhenti mencintai aku.” Terang Zara.

“Kenapa kamu bisa menyimpulkan hal itu?” Tanya Haris lagi.

“karena aku ini hamil, Haris. Dan kamu bukan ayah dari bayi yang aku kandung!!” Ucap Zara histeris.

Haris menghembuskan nafasnya, melihat sekelilingnya yang tiba-tiba perduli atas keberadaan mereka dan keributan yang mereka buat. Haris mengeluarkan dompet, lalu beberapa lembar uang dam meletakannya dimeja setelah memberi isyarat pada seorang pelayan di dekatnya. Haris bangkit dari duduk, merangkul pinggang Zara dan menyeretnya keluar dari tempat itu. Zara berkali-kali berusaha berkelit, namun cengkraman tangan Haris di pinggangnya tidak memungkinkan Zara untuk melepaskan diri.

“Kamu dengerin aku.” Ucap Haris.

“Aku gak mau denger apa-apa lagi!” Teriak Zara parau sambil menutupi telinganya.

“Dengerin aku.” Ucap Haris, “Siapa pun ayah dari bayi di dalem kandungan kamu itu, buat aku dia cuma laki-laki tolol yang membiarkan kamu sendirian disaat seperti ini. Aku gak perduli siapa dia atau seperti apa dia, yang aku perduli cuma kamu dan bayi yang ada didalem kandungan kamu itu.”

“KENAPA KAMU KERAS KEPALA!! KENAPA KAMU NEKAT!!” Ucap Zara.

“Karena aku mencintai kamu. Jadi jangan pernah minta aku untuk ninggalin kamu, karena itu gak akun pernah terjadi.” Ucap Haris.

Haris menstater mobilnya lalu mengemudikannya ke tengah lalu lintas yang padat. Zara hanya mampu terdiam, memalingkan wajah, tak lagi berminat melanjutkan perdebatan itu.

*

Tiga bulan berlalu dengan perdebatan panjang antara Zara dan Haris. Zara dengan kekerasan niatnya untuk dibiarkan sendiri dan Haris dengan kemantapan hatinya untuk tetep mencintai Zara.

Masing-masing sudah lelah dengan pembicaraan yang selalu berakhir dengan perdebatan panjang dan air mata di pipi Zara. Sudah lelah menafikkan keinginan masing-masing. Sudah lelah karena pembahasan tanpa hasil. Pada akhirnya Zara dan Haris berhenti memperdebatkan itu dan melalui hari sesuai yang mereka inginkan setiap hari. Zara yang enggan terus ditemani dan Haris yang terus ada saat Zara membutuhkan.

*

Jam weker di meja samping tempat tidur berbunyi, namun siempunya malah tak bergeming di dalam selimutnya sampai weker itu lelah berbunyi dan berhenti sendiri. Tak lama setelah weker itu berhenti berbunyi giliran telfon yang berdering, namun siempunya tetap saja seolah mati didalam selimutnya, sampai akhirnya penelfon itu bosan dan berhenti menelfonnya.

“Bangun pemalas.” Ucap Haris sambil menarik selimut Zara.

“Lima menit lagi.” Ucap Zara sekenanya.

“Liat tuh matahari aja bilang kamu udah kesiangan, ini malah minta jatah lima menit lagi.” Ucap Haris membuka gorden kamar Zara.

“Silaaaaau!!” Teriak Zara.

“Biarin. Biar kamu cepet bangun.” Ucap Haris sambil cengar-cengir.

“Iya.. iya.. ini bangun. Dasar bawel.” Ucap Zara sambil memaksakan dirinya bangun dari posisi tudurnya yang nyaman.

“Tuh minum susu. Calon ibu kok pemalas.” Ucap Haris menunjuk susu yang diletakkannya di meja kerja Zara.

“Dasar bodoh. Bawain susu tapi jauh banget naronya. Males ahh ngambilnya. Lagian kamu kok main masuk sembarangan ke apartement aku?” Ucap Zara merajuk.

“Ya kamu di telfon gak diangkat-angkat. Karena aku tau kamu masih tidur ya aku masuk aja, kan aku punya kunci cadangan.” Ucap Haris.

“Bukan berarti karena kamu punya kunci cadangan apartementku terus kamu bisa masuk sembarangan, semprul.” Ucap Zara.

“Iya, aku minta maav. Sekarang kamu bangun dari tempat tidur, minum susu, trus mandi. Kita mau check up ke dokter jam 9.” Ucap Haris.

“Males ahh.” Ucap Zara.

“Yee.. buruan bangun dari tempat tidur dari pada aku ikut tiduran disitu, terus kamu gak boleh bangun sampe aku puas.” Canda Haris, yang disambut Zara dengan lemparan bantal tepat ke wajahnya.

“Rasa apa sih ini?? Aku kira coklat. Gak enak ahh.” Ucap Zara saat menyesap susu yang dibawakan Haris.

“Rasa mocca. Udah minum aja sampe habis.” Ucap Haris sambil mulai merapihkan tempat tidur Zara.

“Mas, mas, maav ya.. Saya gak pesen room service kok.” Ucap Zara dengan wajah serius sambil mengamati pekerjaan Haris.

“Hahahaha.. sial.” Tawa Haris meledak mendengar ucapan Zara.

“Huusshh.. berisik! Udah ahh aku mandi dulu ya..” Ucap Zara.

Zara masuk ke kamar mandi setelah meraih handuknya. Haris menyelesaikan pekerjaannya merapihkan tempat tidur Zara, setelah itu menghempaskan tubuhnya di sofa bed yang biasanya jadi tempat tidurnya bila ia menginap di apartment studio milik Zara ini. Mengamati ruangan berwarna ungu dengan luas 5 X 6 m yang sejak setengah tahun ini menjadi tempat tinggal bagi Zara. Kamar ini berisi sebuah tempat tidur queen size, lemari baju, meja kerja yang menghadap jendela besar, satu set sofa plus meja, TV plus home theater, AC, rak buku, dan kitchen set. Di tata dengan sangat rapih membuat ruang ini tetap terlihat luas meski banyak barang terdapat di dalamnya.

“Hars.. tolong nyalain lagu di iTunes laptopku dong.” Teriak Zara dari kamar mandi.

“Iya.” Jawab Haris sambil beranjak melaksanakan apa yang diminta Zara.

Setelah menyalakan lagu koleksi Zara dari laptopnya, Haris sempat mengamati foto di atas meja kerja Zara. Dari tahun ke tahun Zara hampir tak pernah berubah, rambut hitam panjang sepinggang, wajah oval dengan bibir mungil, pakaian kasual dan sepatu tanpa heals, mata besar yang kadang dihiasi dengan kaca mata silinder 2. Terlahir campuran Indonesia-Spanyol menjadikan Zara begitu sempurna dimata Haris. Bahkan Zara yang baru dikenalnya beberapa bulan saja mampu membuat Haris begitu menginginkan wanita itu, bahkan meski pada akhirnya Haris tau Zara sedang mengandung anak pria lain. Haris tak pernah bertanya siapa ayah dari anak itu, tak tau seperti apa pria itu, bahkan tak perduli akan alasannya meninggalkan Zara dalam keadaan mengandung anaknya. Yang ia tau ia mencintai Zara, apa adanya dan siap menerima seperti apa pun keadaan Zara.

“Ngapain kamu bengong disitu?” Tanya Zara saat keluar dari kamar mandi.

“Hah?” Ucap Haris terkejut, “Gak apa-apa, lg ngeliatin foto kamu aja. Kamu gak pernah berubah ya?”

“Kenapa harus berubah emangnya?” Tanya Zara.

“Karena manusia itu kan dinamis, selalu berubah setiap waktu.” Ucap Haris.

“Oow.. tapi bagi aku, harusnya yang dinamis itu sikap kita terhadap hal-hal, terus perilaku kita yang semakin dewasa, bukan Cuma tampilan luar aja. Lagian dengan aku gak pernah berubah jadi memudahkan orang untuk mengingat aku kan. Lagian aku udah nyaman sama keadaan aku.” Ucap Zara.

“Iya sih, tergantung gimana orang memandangnya aja.” Ucap Haris yang kemudian beranjak kembali ke sofa bed.

“Kamu gak kerja hari ini?” Tanya Zara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Kerja lah, tapi kan gak harus dari pagi gini datengnya. Kaya gak tau kerjaan aku aja.” Ucap Haris, “Kamu sendiri? Gak kerja hari ini?”

“Kerja, tapi karna semalem abis ngerjain lay out sampe jam 2, jadi hari ini izin dateng telat. Kantor juga ngerti lah keadaan aku.” Ucap Zara.

“Bagus lah kalo gitu. Kamu beruntung punya orang-orang disekitar kamu yang open-minded, untungnya juga keluarga kamu terbiasa sama modernisasi kaya kamu gini.” Ucap Haris.

“Modernisasi di Indonesia, di Amerika dan Eropa sih udah dari dulu orang punya anak dulu baru nikah. Tapi orang tua aku juga belum tau kok.” Ucap Zara.

“Kamu belum ngasih tau mereka juga sampe sekarang? Kamu nunggu apa lagi sih emang?” Tanya Haris.

“Nunggu waktu yang tepat, gimana pun mama kan orang Indonesia yang pasti shock kalo tau anak perempuan satu-satunya hamil dan gak jelas siapa bapaknya gini.” Ucap Zara sambil tergelak.

Tawa itu mau tidak mau menular pada Haris. Zara memiliki pribadi yang unik, sangat terbuka dan fun. Jarang bisa menemukan wanita seperti Zara sekarang ini, apa lagi di Jakarta yang [kebanyakan] berisi wanita dengan otak dangkal yang selalu berusaha untuk menjaga image mereka secara berlebihan, dan pada akhirnya menjadikan mereka sebagai pribadi yang kurang fleksibel dan palsu. Haris menyukai Zara yang berbeda, Zara yang tak segan mengulurkan tangan pada orang yang butuh bantuan meski tak dikenalnya, Zara yang begitu penyayang dan secara ajaib juga memiliki mata yang penuh cinta.

“Buruan dong, lama banget jalannya.” Ucap Zara di dalam lift.

“Bawel deh, lagian ibu hamil yang satu ini jalannya buru-buru banget. Ngidam makan kereta express ya, Bu?” Canda Haris.

“Sial.” Ucap Zara sambil memukul lengan Haris.

“Aduh sakit tau.” Ucap Haris memegangi lengannya.

“Eh, sorry. Emang mukulnya kekencengan ya?” Tanya Zara sambil meraih lengan Haris.

“Enggak sih, Cuma pengen dipegang kamu aja.” Ucap Haris.

“Yee..” Ucap Zara kesal.

“Mukanya lucu kalo manyun begitu.” Ucap Haris.

Haris terus meledek Zara sampai tiba di parkiran. Mereka selalu menggunakan mobil masing-masing bila akan pergi kemana pun. Alasannya karena Zara tidak mau terlalu merepotkan bila dia ingin pergi ke suatu tempat. Jadi mereka terbiasa menggunakan mobil mereka sendiri, Zara dengan mobil swift ungunya di depan dan Haris dengan new civic hitamnya mengikuti dari belakang. Hari ini tujuan mereka jelas, ke dokter sebelum Haris mengantar Zara ke kantornya, karena biasanya Zara punya hobby pergi dengan tujuan yang kurang jelas, sehingga Haris hanya bisa mengikuti kemana Zara memacu kendaraannya.

Rumah sakit yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Zara. Rumah Sakit khusus ibu dan anak di daerah darmawangsa, sedangkan Zara tinggal di daerah pangeran antasari.

“siang, dok.” Ucap zara saat memasuki ruang praktek dokter kandungannya.

“siang zara, silahkan tiduran.” Ucap dokter Alma sambil menunjuk kearah tempat tidur pasien.

Dokter Alma mengoleskan cairan dingin keperut zara lalu melakukan USG.

“bayinya kelihatan baik-baik saja, beratnya juga cukup. Apa kamu sudah mulai merasakan gerakan?” ucap dokter alma.

“eh.. belum. Memang seharusnya sudah ya dok?” Tanya zara bingung.

“ya biasanya mendekati usia kandungan 5 bulan mulai ada gerakan lembut, tapi itu normal kok kalau memang kamu belum merasakan gerakan apa apa. Ga perlu panic.” Ucap dokter alma.

“belakangan pinggang saya suka nyeri, itu kenapa ya dok?” Tanya zara sambil merapihkan bajunya.

“itu normal kok, nyeri itu biasanya akan semakin bertambah frekuensinya saat usia kandungan semakin besar. Makanya jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan semua hal. Dan selalu inget untuk istirahat.”

“iya dok.”

“ini resep vitamin, jangan lupa diminum ya.”

“iya, terima kasih dok.” Ucap zara sambil bersalaman dengan dokter alma.

 
Leave a comment

Posted by on 18 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , ,

1st chapter: city of dreams, LIVERPOOL

1

Jam menunjukan waktu makan siang, waktu Jakarta. Aku menggandeng tangan anakku di tangan kananku dan sebuah goodybad di tangan kiriku. Aku menuju terminal 2D bandara soekarno-hatta. Tujuanku Liverpool. Tapi berhubung sulit sekali mencari penerbangan yang langsung dari Jakarta ke Liverpool, akhirnya aku memutuskan untuk memilih menggunakan penerbangan Cathay Pasific yang  mengantarkan aku menuju Manchester, Inggris. Ada banyak penerbangan lain yang menawarkan jasa penerbangan ke Inggris namun perjalanan ini memakan waktu hampir satu hari, lagi pula aku membawa serta anakku dalam perjalanan ini. Maka tidak salah bila aku lebih memilih terbang dengan  penerbangan asing, kenyamanan harus sangat diperhatikan karena bagaimana pun kami harus pindah 2 pesawat, pertama di Hongkong dan kemudian di London. Bahkan saat sampai di Manchester international airport sekali pun aku dan anakku masih harus melakukan perjalanan darat menuju Liverpool.

Itu lebih mudah dilakukan. Rencanaku kami akan menetap di Manchester selama 2 hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Liverpool. Walau pun perjalanan dari Manchester ke Liverpool hanya berjarak beberapa puluh km namun itu lah rencana yang ku buat. Aku akan menetap selama 2 hari di hotel, menikmati kota Manchester, kota impianku, kota tempat club sepak bola favoritku berasal, Manchester United. Setelah 2 hari menikmati kota impianku maka aku dan anakku akan melanjutkan hidup kami di Liverpool, kota impian kekasihku, kota dimana club sepak bola kesayangannya berasal, Liverpool.

Setahun lalu kami melewati perdebatan panjang mengenai kota yang kami pilih untuk kami tinggali. Negara yang kami tuju jelas adalah Inggris. Bagiku Negara itu lah dari mana semua peradaban modern, sejarah dan seni hadir. Bagi kekasihku itu lah Negara dari mana sepak bola berasal. Alasan bodoh memang, tapi kami punya cukup modal untuk pindah kesana, membeli sebuah apartement sederhana untuk kami tinggali, dan mencari nafkah. Maka perdebatan pun berpindah, kota mana yang tepat untuk kami. London sejak awal sudah terdepak, kurang nyaman bagiku, terlalu ramai bagi kekasihku. Lalu aku mengajukan Manchester sebagai kota yang nyaman. Namun ditolaknya mentah-mentah, alasannya tentu berkaitan dengan olah raga favoritnya itu. Manchester United jelas-jelas adalah musuh bebuyutan dari Liverpool FC, dia merasa menjadi pengkhianat bila tinggal di Manchester. Maka kemudian Liverpool lah yang menjadi pilihan kami. Dengan catatan dia harus mau menemaniku jika aku mau menonton pertandingan MU di Old Traford.

Maka sejak Negara dan kota tujuan kami ditentukan, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan semua hal. Uang tentu saja. Namun ada yang lebih penting dari itu yang sebenarnya agak memberatkan kami. Hubungan kami sebatas kekasih, dan keluargaku mau pun keluarganya tidak akan setuju jika kami mengatakan akan pindah ke negara yang letaknya di bagian lain dunia ini, jika sebelum keberangkatan kami tidak menikah. Maka bersamaan dengan persiapan kami untuk berangkat maka keluarga kami melakukan persiapan pernikahan. Sebuah pernikahan kecil yang nantinya hanya akan dihadiri oleh keluarga.

Maka selanjutnya kami menikah dan hidup bahagia selamanya di kota impian kekasihku? OH WAIT!!

Jangan berkhayal dulu teman-teman.  Tidak ingatkah kalian bahwa sedari tadi aku hanya membicarakan keberadaanku di bandara soekarno hatta bersama anakku. Tidak disertai kekasihku. Jadi pertanyaan selanjutnya pasti berbunyi seperti ini “what’s happen?”. Aaahhh.. boleh kah aku skip pertanyaan itu? Boleh? Oh baik lah.. jawabannya adalah kami tidak jadi menikah. Dia tidak jadi ikut bersama aku dan anakku menuju kota impiannya untuk memulai hidup kami bersama. Pertanyaan lanjutan “why?”. Gggrrr.. lagi-lagi aku berharap tidak harus menerangkan tentang hal ini. Tapi karena moodku sedang sedikit baik maka aku akan berusaha menjelaskannya.

Rencana keberangkatan kami adalah 29 Oktober 2010, beberapa hari setelah pernikahan kami dilangsungkan. Pernikahan itu sendiri seharusnya digelar pada 20 Oktober 2010. Lalu yang terjadi adalah kekasihku ditemukan sedang berada dalam keadaan bugil bersama perempuan bugil di dalam apartmentnya, dan yang menemukannya tentu bukan aku, tetapi ibunya. Malam itu aku di telfon ibunya dan dimintanya untuk datang kerumahnya malam itu  juga. Saat aku sampai, untunglah, semua orang dalam keadaan berpakaian layak. Lalu ayahnya mulai bicara, padaku. Hanya padaku. Menjelaskan keadaan yang ada. Meminta pendapatku tentang apa yang harus dilakukan saat itu. Mengingat hari pernikahan kami hanya tinggal seminggu lagi dan begitu pula hari keberangakatan kami yang semakin mendesak.

Aku terbagi antara perasaan tak percaya dan terkhianati. Tak ada air mata, hanya rasa sesak di dadaku. Kakak perempuan kekasihku beringsut ke sampingku berusaha menguatkan aku. Ya aku memang cukup dekat dengan kakak perempuannya. Tapi itu sama sekali tidak membantuku. Berkali-kali aku menatap wajah kekasihku. Dimatanya jelas terlihat penyesalan. Tapi kemudian yang timbul dihatiku hanya pertanyaan tentang kesetiaannya. Aku menatap lekat wajah perempuan itu, topeng lugunya tertata rapih. Tapi aku tau ada hal lain yang berenang dibenaknya. Ibu kekasihku hanya mampu menangis. Terutama saat tadi suaminya menjelaskan padaku permasalahan yang kami hadapi.

Entah berapa lama waktu berlalu dalam kebisuan. Semua orang menungguku bereaksi. Pada akhirnya aku berucap sebuah kalimat. Kalimat yang mengakhiri semua permasalahan itu. Kalimat yang memaksa kami mengagalkan pernikahan kami. Kalimat yang memaksaku melintas ke benua lain hanya berdua dengan anakku. Kalimat yang sepertinya juga mengakhiri kisah kami. “nikah kan mereka.”

Maka setelah itu aku tak pernah lagi menemuinya. Bukan karena aku enggan. Namun aku hanya ingin fokus atas rencanaku tentang kehidupaku kedepan. Masalah ini tidak boleh menjadi penghalangku melanjutkan hidupku. Maka meski pun ada beratus-ratus sms atau pun BBM yang dikirimkan oleh kekasihku, kakaknya, bahkan ibunya aku tetap pada pendirianku untuk pergi. Entah apa yang terjadi dengan hari pernikahanku. Namun jika apa yang kukatakan di dengar oleh mereka seharusnya hari itu menjadi hari pernikahan kekasihku dengan perempuan itu.

Sudah cukup ceritanya. Sepertinya itu cukup jelas menjabarkan tentang keberadaanku disini dengan anakku. Memulai perjalanan kami menuju benua lain dan kehidupan yang baru. Aku menghampiri konter check in beberapa menit yang lalu. Tak ada cukup banyak bawaan, semua sudah dikirimkan melalu kargo beberapa hari lalu dan barang-barang itu akan sampai disana lebih dulu dari padaku. Maka yang tersisa hanya koper ukuran sedang berisi kebutuhanku dan anakku selama 2 hari kami tinggal di Manchester. Karena saat kami sampai ke Liverpool kami hanya harus menata apartement yang telah kami beli sebelumnya dengan bantuan seorang sepupuku yang juga tinggal di kota itu.

Aku dan anakku akhirnya menemukan lounge yang kami cari untuk menunggu selama 2 jam sebelum keberangkatan. Lounge ini sangat nyaman, lagi pula aku hanya perlu membayarnya dengan harga yang tidak terlalu mahal dengan credit card ku, ya lounge ini memang dikhususkan bagi pemegang credit card seperti yang kumiliki. Makan siang diselingi dengan obrolan dan candaan tentang orang-orang disekitar kami memakan waktu cukup lama. Ditambah lagi aku melakukannya sambil mengerjakan pekerjaanku. Ah baik lah, aku belum banyak bercerita tentangku dan anakku. Tapi nanti aku akan bercerita tentang kami. Perjalanan dari Jakarta menuju Manchester akan cukup panjang untuk aku bercerita tentang semuannya.

“udah yuk bun.” Ucap Kiara.

“Ya udah, bunda juga udah selesai kok ini.” Ucapku.

Aku mematikan iPadku lalu memasukkannya kembali ke goodybag yang ku bawa. Aku menggandeng tangan anakku kembali, menuju keluar lounge. Kami hanya menunggu selama beberapa menit di gate sebelum panggilan mengizinkan kami untuk memasuki pesawat. Baik lah perjalanan ini sangat mahal jika orang mendengar aku menyebutkan harga tiket yang harus aku bayar. Tapi harga itu sangat worth it untuk mendapatkan kenyamanan fist class dari penerbangan ini, jadi aku sarankan jika kamu mau melakukan perjalanan yang panjangnya sama dengan perjalananku kali ini, atau lebih panjang, maka beli lah tiket first class agar kamu tidak perlu mengalami jet lag yang terlalu parah setelah perjalanan panjang tersebut.

Kiara masih terkagum-kagum dengan kenyamanan pesawat ini hingga beberapa menit setelah tinggal landas. Lalu setelah bosan mengagumi pesawat ini dia mengeluarkan buku dan nitendoDS yang di bawanya didalam tas ransel kecil. Buku dan nitendoDS itu akan membuatnya cukup nyaman selama perjalanan, lagi pula dia pun bisa bermain kartu dan halma yang disediakan untuk anak-anak penumpang pesawat ini dan juga masih ada tv yang bisa ia tonton, serta makanan yang bisa ia pesan kapan saja.

Oh ya aku masih punya hutang untuk menceritakan tentang diriku dan anakku.

Namaku Kinanti Putri Ramona, meski kebanyakan orang tidak lagi menyertakan Putri di namaku, namun aku terlahir dengan nama itu. Aku seorang penulis dan Public Relations Officer. Aku mulai menulis sejak masih dibangku SMA dan sejak itu beberapa buku telah aku terbitkan. Tadinya selama di Jakarta aku menjadi seorang PR di sebuah rumah sakit internasional. Namun aku sudah resign sejak sebulan lalu, dan nanti di Liverpool aku akan bekerja di sebuah kantor konsultan Public Relations yang telah dengan senang hati menerimaku. Usiaku 27 tahun. Cukup muda untuk menjadi seorang penulis sukses, PR berbakat dan ibu yang baik bagi anak perempuanku satu-satunya. Tapi itu lah aku. Aku selalu melakukan semua sesuai rencana. Hampir tak ada yang mampu menghentikanku. Bahkan saat aku hamil dan harus melahirkan Kiara di semester akhir kuliahku aku tetap fokus.

Kiara Aurora Ramona, itu nama yang ku pilih untuk anakku. Dia lahir di usiaku yang ke 21 tahun dan masih berstatus lajang. Aku tau siapa ayahnya, begitu juga dengan keluargaku, tentu dia adalah salah satu mantan pacarku, tapi tak penting membicarakan laki-laki tak bertanggung jawab itu, aku pun bersyukur karena tak harus menikah dengannya. Usai Kiara akan genap 6 tahun Desember nanti. Dia sudah lancar berbahasa inggris, karena aku memasukannya ke sekolah dwibahasa sejak playgroup. Dia akan mulai masuk primary school di Liverpool tahun depan.

Sejak lulus kuliah aku memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah rumah kecil di kawasan Kebayoran. Aku menghidupi keluarga kecilku dengan uang tabunganku hasil dari penerbitan buku yang ku tulis. Setengah tahun setelah lulus kuliah aku mendapat pekerjaan di sebuah kantor advertising sebagai Account Executive. Setelah 2 tahun bekerja ditempat itu, aku pindah ke sebuah Rumah Sakit Internasional dan benar-benar bekerja sebagai seorang PR sesuai pendidikanku. Aku bekerja selama 4 tahun lebih di rumah sakit itu. Warisan ayahku yang tak pernah kutemui, ditambah tabunganku dan royalti penjualan novelku membuat aku memiliki cukup uang untuk merencanakan kehidupan di tempat yang baru. Seharusnya ditambah dengan pendapatan kekasihku akan membuat semua lebih mudah diwujudkan. Namun aku tetap melaksanakan rencanaku, meski yang terwujud tidak benar-benar seperti rencana yang ku buat.

Sedikit lagi mengenai diri kekasihku. Dia adalah anak dari salah satu direktur sekaligus dokter di Rumah Sakit tempat aku bekerja. Meski aku baru mengetahuinya setelah berpacaran dengannya selama 2 bulan. Dia seorang 3D animator. Well, aku tau sangat aneh mendengan seorang dokter punya anak seorang animator. Tapi ya itu lah kenyataannya. Aku berpacaran dengannya selama 3 tahun, dan meski pun perbincangan tentang tinggal  bersama sering kami lalui, namun kami belum benar-benar melakukannya.

Kiara sangat dekat dengan kekasihku. Ya karena sejak dia lahir baru kekasihku itu lah laki-laki yang sangat dekat denganku dan ku perkenalkan padanya. Kiara menganggapnya seperti ayahnya sendiri namun tetap memanggilnya om, karena aku tidak mengizinkan Kiara memanggilnya ayah.

Orang bilang kalo jodoh ga kemana.. dan aku masih percaya itu. Jujur sulit bagiku membiarkan diriku kehilangan sosok kekasihku. 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan. Terlebih sejak kehadiran Kiara aku agak selektif memilih teman laki-laki, dan baru dia yang mampu meyakinkanku untuk kembali berhubungan dengan laki-laki. Tapi  jika memang dia ditakdirkan untukku maka aku akan menemuinya kembali suatu hari nanti, di tempat yang berbeda, di waktu yang berbeda, dan situasi yang berbeda. Sekarang aku punya rencana dan tujuan yang lebih ril untuk dilakukan.

*

To        : zikri.kh@gmail.com

Subject : berangkat

Cheri,

Aku jadi berangkat hari ini. Sekarang aku sama Kiara udah di atas pesawat. Sekitar satu jam yang lalu kita udah take off dari Soekarno-Hatta. Kiara lagi asik main NitendoDS yang kamu beliin buat dia. Tadi dia sempet foto-foto juga. Aku baru tau loh Nitendo jaman sekarang bisa dipake buat motret juga. Jaman kita kecil kayanya nitendo tuh segede batako ya. Oh ya, she still asking me why u not coming with us. I can’t explain to her, C. I wish I can tell her, but I know the fact will hurt her.

C, are u already marry her? Aku masih separuh ga percaya soal kejadian itu. Terutama karena itu justru terjadi pada saat rencana kita udah mateng, kamu ga pernah kaya gitu sebelumnya. Kamu selalu tau cara menjaga perasaanku. Makanya malem itu aku bener-bener ngerasa terguncang.

Maaf ya C, aku ga nemuin kamu atau ngabarin kamu apa-apa lagi setelah kejadian malem itu. Aku Cuma ga mau semua masalah itu ngerusak rencana kita. Ya aku tau, rencana kita emang udah jadi berantakan, tapi aku dan Kiara tetep harus ngelanjutin rencana itu. Kami juga punya kehidupan yang harus dilanjutkan. Lagi pula sepertinya ga mungkin aku ngebatalin keberangkatan kita. Apartment itu kan udah dibeli, tiket pesawat juga udah di beli. Oh ya, aku ga tau kamu sadar atau ga, tapi aku udah ngembaliin uang bagian kamu dari pembelian apartment itu. Aku transfer uang 2 hari lalu ke rekening Standart Chartered kamu. Harusnya sih kamu tau ya, soalnya kan itu big amount of money.

C, I miss you so badly. Kamu masih inget ga waktu kamu ke US 4 bulan buat ngerjain film kartun itu, apa ya judulnya aku lupa? Setiap hari aku selalu rewel nelfonin kamu dan bilang aku kangen, padahal aku tau banget kamu kerja. Sekarang lebih parah dari itu. Kemaren waktu masih di Jakarta setiap ngeliat telfon rumah atau hp bawaannya pasti pengen nelfon kamu. Tapi aku takut kalo aku nelfon kamu malah aku semakin lemah. Aku harus kuat kan, itu yang selalu kamu bilang tiap kali kamu pergi keluar negeri buat ngerjain kerjaan kamu. Tapi kali ini semuanya bener-bener beda, C. Biasanya aku selalu masih punya harapan kapan kamu bakal pulang. Kapan aku bisa ketemu kamu lagi. Tapi sekarang semua ga ada. Malah mungkin aku ga bakal ketemu kamu lagi seumur hidup aku.

Tadi pagi waktu aku bangun aku masih berharap kalo aku bakal ketemu kamu di bandara. Aku tau kamu bahkan ga cancel tiket pesawat kamu. Tau ga sih, itu sangat buang-buang uang. Tiket itu kalo kamu cancel uangnya bisa kamu pake buat beli angkot. Hahaha… sampe tadi sebelum take off pun aku masih berharap kamu tiba-tiba muncul. Tapi ternyata itu bener-bener cuma harapan.

C, aku sayang kamu. Aku selalu yakin kamu tau itu. Dan aku ga tau sampe kapan rasa ini bakal tinggal di hati aku. Mungkin lebih mudah buat ngelepas kamu saat aku udah berjarak ribuan km dari kamu nanti. Tapi aku pengen kamu baik-baik, C. Aku selalu pengen ngeliat kamu bahagia dengan pilihan kamu itu.

C, aku berangkat duluan ya. Dalam waktu kurang dari 24 jam aku bakal sampe ke kota impianku. Dalam beberapa hari aja aku bakal bener-bener sampe ke kota impian kamu. Dan disana aku akan membangun mimpiku yang baru.

I’ll always love you, C. Be good there yaa. Wish to see you again, someday.

[still] yours,

KR

Save to draft

 
10 Comments

Posted by on 18 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , ,

about my novel

well seperti yang kalian semua tahu bahwa saya sangat suka menulis. dari sekian banyak tulisan saya saya punya banyak tulisan yang saya pikir akan saya jadikan novel.. tp kebanyakan selalu stuck setelah beberapa bab.. dan sejauh ini baru 1 buah novel yang saya tulus hingga tamat, tp tidak saya terbitkan, karena 2 alasan.. pertama, karena saya merasa tulisan saya tidak cukup baik untuk diterbitkan oleh penerbit.. yg kedua, karena saya pikir lebih enak jd penulis yg idealis tanpa perlu memikirkan kebutuhan penerbit akan jumlah pembeli..

maka jadilah saya yg tetap menulis beberapa chapter novel tanpa mampu menyelesaikannya. hehehe..

oh ya, pas lebaran kemaren saya ketemu sm salah seorang penulis yang juga sahabat keluarga saya, om Nestor Rico Tambunan.. dia bilang nulis aja terus nanti dia bantuin edit tulisan saya klo emang mau diterbitin.. saya masih terus berpikir apa harus menerbitkan tulisan” aneh saya ini.. saya merasa tulisan saya tidak cukup populer dikalangan luar.. pembaca saya terbatas pada mereka yang benar” mengenal saya.. atau mereka yang suka membaca blog saya.. tp ya kita coba saja.. klo memang tulisan saya nanti diterima oleh salah satu penerbit ya alhamdulillah, klo ga ya gpp.. toh sejauh ini saya selalu menulis untuk diri saya sendiri..

oh iya.. sementara ini saya berniat berbagi pada pembaca blog ini 1st chapters dari novel” yang pernah saya tulis.. selamat membaca ya.. bagi yg penasaran akan lanjutannya boleh request, insyaALLAH nanti saya update..

 
Leave a comment

Posted by on 18 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , , ,

ramadhan ini

entah mengapa ramadhan dan lebaran tahun ini begitu berbeda bagiku,
begitu sunyi, begitu sepi, begitu menyedihkan.

mungkin itu karena banyak dari orang yang kuharapkan kehadirannya justru tak ada,
mungkin juga karena tahun ini keluargaku terpecah belah.

begitu banyak amarah dan kecurigaan yang terjadi,
serta pembicaraan yang kurang menyenangkan antara satu dan yang lain.

tapi bagi mereka ini masalah orang tua,
kami anak-anak tak perlu tahu dan ikut campur.

tapi bukankah kami juga bagian dari keluarga ini,
malah justru kami yang lebih merasakan kejanggalan ini meski kami tak benar-benar mengerti.

para orang tua bersikukuh dengan keegoisan mereka,
tak mengerti kalau kami anak-anak ingin merasakan kebersamaan itu lagi.

lebaran yang seharusnya menjadi moment yang sakral,
justru menjadi momok yang tak ingin ku jumpai.

saat pagi tadi aku berlutut dan bersujud dalam shalatku,
aku memohon untuk kebersamaan seluruh keluargaku.

memohon sampai tak ingin bangun dari sujudku,
sampai aku tau semua sudah dikabulkan olehNya.

tapi aku tau tak semudah itu menyatukan perbedaan,
apa lagi bila perbedaan itu telah membentuk jarak antara begitu banyak manusia.

tapi haruskah jarak yang ada dipertahankan,
bahkan meski satu dan lainnya sama-sama tersakiti.

mampukah kami anak-anak menjadi pemersatu keluarga ini,
atau harus kah kami anak-anak tutup mata atas segala yang terjadi.

aku sudah malu meminta padaNya,
rasanya sudah terlalu banyak yang ku minta.

tapi aku ingin lakukan sesuatu,
meski aku tak mengerti harus mulai dari mana.

aku tak bisa terus diam saja,
membiarkan apa yang ada menjadi berlarut-larut.

melihat keluargaku menjadi orang lain,
yang tak lagi saling menyapa apa lagi saling menyayangi.

aku berharap semua berubah atas kehendakNya,
atau kami anak-anak diberi kekuatan untuk menyatukan keluarga ini lagi.

karena kami rindu kehangatan itu,
rindu senyum dan pelukan yang lama tak kami rasakan dalam keluarga ini.

 
2 Comments

Posted by on 03 - September - 2010 in kitty

 

Tags: , , ,